| Waspadai Jaringan Lepas |
|
|
|
| Ditulis oleh Harian Bangsa |
| Sabtu, 26 Desember 2009 10:04 |
|
Jakarta-HARIAN BANGSA Mertua Noordin M Top, Baridin, ditangkap di Pamengpeuk, Garut Kamis (24/12) dini hari lalu. Namun bagaimana kondisi terakhir Baridin hingga kini keberadaannya masih dirahasiakan. "Belum bisa saya jelaskan," ujar Kapolri Bambang Hendarso Danuri di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (25/12). BHD juga enggan menjelaskan lebih lanjut terkait keterlibatan Baridin dalam jaringan terorisme. Termasuk apakah Baridin bergerak di bawah komando Para Wijayanto (DPO teroris yang diburu polisi). "Saya belum bisa menjelaskan detilnya," kelit BHD. Ia hanya menginformasikan, Baridin berhasil ditangkap tanpa perlawanan. Tidak ada tembakan dalam penangkapan kemarin. "Tidak ada. Selamat semua, tidak ada luka. Alhamdulillah semua tertangkap dengan baik," terangnya. Gubuk mungil yang didiami Baridin, mertua gembong teroris Noordin M Top, diketahui berada jauh dari pemukiman warga sekitar Kecamatan Cikelet. Dari gubuk tersebut baridin menyimpan kabel aneka warna hingga mencapai sekitar 300 meter. "Banyak kabel warna-warni, kanel putih juga ada. Kabelnya 1 rol kurang lebih panjangnya 300 meter dan yang satu lagi 50 meter," kata salah seorang petugas Satpol PP Kecematan Cikelet, Ruhiat, Kamis (24/12) malam. Ia mengetahui hal tersebut pasca penangkapan Baridin. Dirinya langsung mengecek kondisi rumah yang selama ini didiami Baridin dan putranya. "Ukuran bangunannya (gubuk) 2x3 meter. Ada dua pintu di sebelah kanan dan kiri," terangnya. Sementara itu dari keterangan Suryana, seorang pegawai pariwisata Pantai Santolo yang ikut menyergap Baridin, diketahui jika Baridin sempat menetap di rumah salah seorang warga bernama Agus saat pertama kali datang ke Banyu Asih, Cikelet. "Ia mengeluh selama diam dua hari di rumah Agus, terus dibuatkan gubuk sama Pak Agus di atas tanah Jaja," kata petugas Satpol PP lainnya yang turut menerima keterangan Suryana terkait peristiwa penangkapan Baridin, Bambang Iskandar. Namun, Bambang enggan menuturkan alasan yang dikeluhkan Baridin selama mendiami rumah Agus. Selama empat bulan, sambung Ruhiat, Baridin lantas membangun gubuk di tanah milik Asep. "Gubuk yang itu agak jauh dari rumah warga, jaraknya sekitar 1 kilometer. Di sana ia mengerjakan usaha gula aren," tandas Ruhiat. Sebelum ditangkap, lelaki asal Sleman, Yogyakarta ini menyampaikan ingin pulang ke kampung halamannya. "Dia sempat bilang mau pulang ke Pak Suryana Jumat sekarang (25 Desember 2009)," kata Ruhiat. Namun, sambung Ruhiat, ketika Suryana dan tim Densus 88 menyambangi gubuk 2x3 meter Kamis (24 Desember) dini hari di RT 3 RW 10, Kampung Banyuasih Desa Pamalayan, Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut, Baridin beserta yang lain sudah tancap gas. "Sama pak Suryana di SMS, menanyakan posisi Usman (Baridin). Terus dijawab kalau dia sudah pulang dan sedang di perjalanan," kata Ruhiat. Suryana pun segera menyusul keberadaan mereka berdua di perbatasan Sayang Heulang-Pamengpeuk. "Jarak dari rumahnya satu setengah kilometer, sudah di Jembatan Sayang Heulang," terang Ruhiat. Berhasil menyusul posisi Usman, Tim Densus 88 langsung datang menyergap keduanya. Hingga saat ini, Suryana tidak diketahui keberadaannya. "Saya putus hubungan dengan Pak Suryana, karena banyak yang berkunjung ke rumahnya setelah kejadian itu," katanya. Suryana merupakan pegawai kontrak pariwisata di Pantai Santolo. Perkenalannya dengan mertua Noordin M Top terjadi Bulan Agustus 2009 lalu. Selama dalam persembunyiannya, Baridin seringkali berpindah tempat tinggal. Baridin pernah menumpang di rumah nelayan hingga akhirnya berpindah ke gubuk di atas lahan orang lain. Selama persembunyiannya, Baridin menggunakan dua kartu identitas. Kepada petugas RT, Baridin mengaku Didin Bahrudin asal Cilacap. Sementara kepada warga sekitar Baridin dikenal dengan nama Usman. Sementara itu, Pangdam IX/Udayana Mayjen Hotmangaradja Pandjaitan mengingatkan jajarannya untuk selalu mewaspadai jaringan baru teroris setelah tertangkapnya Bahrudin Latif alias Baridin, mertua Noordin M Top di Garut, Jawa Barat, Rabu (23/12) lalu. "Kita harus selalu mewaspadai kemungkinan adanya jaringan yang lepas atau adanya inidikasi-indikasi adanya jaringan-jaringan teroris baru," katanya di sela-sela open house Natal di kediamannya, di Denpasar, Jumat (25/12). Pangdam mengatakan, untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut pihaknya telah menyebar aparatnya ke sejumlah titik rawan, seperti pintu masuk Bali, pusat keramaian dan juga wilayah pemukiman penduduk. Ia menilai, wilayah pemukiman penduduk sangat perlu untuk diawasi, mengingat berdasarkan pengalaman beberapa kejadian sebelumnya banyak para teroris yang menjadikan pemukiman sebagai tempat bernaung. "Saat ini kita tidak boleh menunggu, melainkan harus mengejar keberadaan teroris sehingga tidak ada celah untuk eksis dan melakukan teror lagi," ujarnya. Untuk mengawasi jalur tersebut dan juga tempat keramaian lainnya, termasuk di sekitar pemukiman masyarakat, pihakyna telah mengerahkan petugasnya dan mempertajam peran dari intelijen. "Kami tetap berupaya untuk melakukan antisipasi terhadap segala kemungkinan yang dapat mengancam keamanan Bali, termasuk kejahatan terorisme," ujarnya. Secara terpisah Kapolda Bali Irjen Sutisna juga mengungkapkan hal yang senada bahwa pihaknya tetap berupaya mengantisipasi adanya tindak kejahatan, termasuk aksi terorisme dengan meningkatkan pengamanan di sejumlah titik rawan. "Kami selalu berupaya untuk mengantisipasi kemungkinan adanya aksi kejahatan, termasuk aksi terorisme," ucap Sutisna. (det/mia/okz/inc) Penangkapan Baridin Dibantu Pegawai Pariwisata Setempat Penangkapan menantu gembong teroris Noordin M. Top, Baridin, di Kabupaten Garut turut melibatkan seorang petugas pariwisata setempat. "Yang bantu nangkap Pak Suryana. Dia pegawai pariwisata di sini," kata seorang petugas Satpol PP Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut, Ruhiat, saat dihubungi via telepon, Kamis (24/12/2009) malam. "Kok, bisa?" tanya wartawan. "Dia (Suryana) dekat dengan orang yang ditangkap itu," jawab Ruhiat. Dituturkannya, Suryana turut serta dalam penyergapan Baridin dan putranya, Kamis (24/12/2009) dini hari tadi, bersama dengan tim Densus 88 Mabes Polri. Dari penuturan Suryana, kata Ruhiat, diketahui perkenalan mereka berlangsung di Pantai Santolo, Garut, Agustus lalu. Namun, kata Ruhiat, hingga saat ini pihaknya tidak mengetahui keberadan Suryana. |
| LAST_UPDATED2 |


