| Pria-Wanita Campur, Sex Affair Pasti Terjadi |
|
|
|
| Kamis, 24 Desember 2009 13:00 |
Kurang suci apa, kurang sakral apa, kurang religi apa suasana di Baitullah dalam al-Masjid al-Haram Makkah. RumahNya adalah pusat ibadah dan sebagai tuan rumah, tentu Tuhan lebih “ada” di situ menyambut tamu-tamuNya yang datang melakukan sowanan. Tak boleh ada tabir yang memisah antara kaum pria dan wanita. Di hadapanNya, semua diperlakukan sama tanpa diskriminitas gender. Karena Dia sendiri adalah Pembatas. Dialah energi ketaqwaan yang bersemayam dalam jiwa hambaNya yang beriman.
Maka taqwa sesungguhnya tabir kemaksiatan yang hakiki. Namun, begitu masyarakat jahiliah berbuat aneh-aneh dengan berthawaf telanjang tanpa selembar kain menutup kemaluan, apapun alasannya, Tuhan tak terima. Hal itu dianggap terlalu berlebihan dan keluar dari batas kewajaran. Telanjang bersama, meski alasan ibadah sungguh amoral dan lebih membuka peluang terjadianya sex affair antar lawan jenis. Apalagi komunitas Arab yang nota benenya doyan sex. Perhatian terhadap Tuhan sebagai obyek yang disembah akan terenggut oleh gairah seksual. Tuhan tidak rela melihat kekejian di halaman RumahNya sendiri. Karena itu, pada ayat studi ini, yang dilarang pertama adalah al-fawahisy, perbuatan keji, zina dan segala instrumennya. Baik yang terlihat maupun yang samar. Di sinilah, mengapa dalam ibadah haji ada larangan: jangan bersenggama (la rafats), jangan berbuat dosa (la fusuq) dan jangan bertengkar (la jidal)? Dan perhatikan, bahwa yang terdepan adalah larangan berhubungan seksual. Memang tiga itu etika dan efek yang mesti terjadi dalam sebuah pergumulan apalagi antara laki-laki dan perempuan. Itu suasana ibadah haji yang sangat sakral dan religi, Tuhan masih wanti-wanti agar jangan terjadi persinggungan seksual. Apalagi dalam perkumpulan organisasi, apalagi dalam partai. Sudah berapa banyak korban kesalehan wanita. Semula rajin memasak dengan segala menu andalan, tiba-tiba suami sering makam Mie, gara-gara istri aktif nguber pengajian ke sana kemari. Yang semula sangat shalihah, patuh, mengantar suaminya keluar rumah, menyambutnya ketika pulang kerja berubah menjadi liar dan binal ketika aktif dalam organisasi. Yang semula tak pernah membantah, tiba-tiba pandai berdebat dan menantang cerai. Sudah banyak rumah tangga berantakan gara-gara istri aktif di partai politik. Itu bukan salah organisasinya, tapi moral manusianya. Itu maklum, karena dalam pergumulan tersebut tidak ada kontrol sosial yang ketat, apa lagi dalam satu kantor tertutup. Pertama-tama, sama-sama menjaga diri dan malu, lama-lama tersenyum. Lalu dekat dan berbincang-bincang. Lalu sering ke luar kota bareng dengan alasan kunjungan ke daerah dll. Lalu sama-sama bermalam dst. Wiwiting trisno jalaran soko kulino. Maka Maha Benar Allah SWT yang menasehati agar menjaga diri walau dalam suasana ibadah haji. |



Kurang suci apa, kurang sakral apa, kurang religi apa suasana di Baitullah dalam al-Masjid al-Haram Makkah. RumahNya adalah pusat ibadah dan sebagai tuan rumah, tentu Tuhan lebih “ada” di situ menyambut tamu-tamuNya yang datang melakukan sowanan. Tak boleh ada tabir yang memisah antara kaum pria dan wanita. Di hadapanNya, semua diperlakukan sama tanpa diskriminitas gender. Karena Dia sendiri adalah Pembatas. Dialah energi ketaqwaan yang bersemayam dalam jiwa hambaNya yang beriman.
Maka taqwa sesungguhnya tabir kemaksiatan yang hakiki.